Review Film Batas

BATAS

 

SINOPSIS

Film ini bercerita tentang Jaleswari, seorang wanita yang ditugaskan oleh lembaganya untuk menyelidiki kegiatan CSR (Corporate Social Responbility) dalam bidang pendidikan yang kegiatannya itu tidak berjalan sesuai rencana di perkampungan entikong, Kalimantan barat. jales yang sedang mengandung dan baru saja ditinggalkan suaminya memaksakan diri untuk melakukan tugasnya itu.

Tugas yang dijalankan jales ini ternyata tidak mudah, dia banyak mendapatkan masalah selama menjalankan tugasnya, baik itu masalah dari lingkungan masyarakat maupun masalah dari dirinya sendiri. Dalam perjalanan menuju entikong jales sudah mendapatkan masalah, ban mobil yang mengantarkannya bocor, setelah sehari menunggu dia ditolong oleh arif yang merupakan pihak keamanan setempat.

Sesampainya di entikong, ketika jales sedang mendapatkan telepon dari seseorang, hp yang digunakannya dirampas oleh borneo yang merupakan salah satu anak dari desa entikong, kemudian jales diantar oleh adeus yang merupakan satu-satunya guru yang ada di perkampungan entikong ke rumah kepala suku yang di kampong itu disebut panglima

Selanjutnya atas saran dari panglima ,  jales diantar adeus dan borneo ke rumah nawara yang merupakan neneknya borneo, jales yang dianggap tamu di kampung itu dipersilahkan untuk tinggal di rumah nawara. Di rumah nawara jales beremu dengan seorang wanita bernama ubuh yang terlihat sangat depresi dan tidak banyak bicara.

Keesokan harinya jales diantar ke sekolah oleh adeus untuk mengajar, jales bingung ketika disuruh mengajar dan melihat sedikit sekali anak-anak yang bersekolah. Jales berbicara dengan adeus, terjadi kesalahpahaman dari adeus, adeus mengira kalau jales merupakan guru yang sengaja dikirim untuk menggantikan guru sebelumnya yang dikirim ke kampong itu, jales menjelaskan kepada adeus bahwa tujuan dia datang ke kampong itu hanya untuk meneliti program pendidikan dari lembaganya. Melihat kondisi kampong dan anak-anak seperti itu akhrinya jales memutuskan untuk menjadi guru dan mengajar anak-anak itu.

Kehadiran jales tidak sepenuhnya diterima di kampong itu, melihat kehadiran jales, juragan otig bersama anak buahnya merasa tidak senang dan ingin mengusir jales dari kampung itu. Banyak hal yang dilakukan juragan otig untuk mengusir jales, dari meletakkan mayat monyet di samping jales ketika jales tidur, hingga merusak tanaman padi masyarakat untuk menfitnah jales, kalau kehadiran jales dapat membuat sial kampong entikong itu.

Jales sempat syok, tapi dia tidak menyerah, dia tetap berusaha meyakinkan masyarakat bahwa pendidikan itu penting, jales bersama adeus berbicara dengan ibu-ibu di kampong bahwa pendidikan untuk anak mereka itu penting, tetapi para orang tua berpikir kalau anak mereka sekolah, anak-anak mereka tidak dapat membantu mereka bekerja di siang hari.

Film ini juga menceritakan masalah otig yang merupakan orang yang menjadi agen yang mengirimkan wanita-wanita untuk dijual ke negeri seberang. Awalnya ada laki-laki yang membawa beberapa orang wanita ke otig, karena jumlahnya sedikit otig menolaknya, beberapa hari kemudian laki-laki tersebut kembali membawa wanita-wanita dengan jumlah yang diinginkan juragan otig, kemudian otig bersama anak buahnya membawa-membawa wanita-wanita itu ke perahu untuk dijual kenegeri seberang. Perbuatan otig ini diketahui arif, diam-diam dia menyelidiki otig, ketika ada kesempatan yang pas dia melaporkan perbuatan otig kepada polisi, kemudian otig dan anak buahnya ditangkap oleh polisi dan wanita-wanita yang dibawanya dikembalikan ke orang tuanya.

Otig juga merupakan dalang yang menyebabkan ubuh menjadi depresi, suatu malam ubuh bercerita penyebab yang mebuatnya menjadi seperti itu kepada jales. Dengan ditangkapnya otig, jales dan adeus jadi lebih leluasa untuk mengajar di kampong entikong,

Setelah sekian waktu tinggal di kampong entikong, akhirnya jales memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk melaporkan penelitian tentang program lembaganya di kampong entikong, para penduduk desa merasa sedih atas kepergian jales, mereka menganggap jales sudah seperti saudara sediri dan jalesjuga sudah banyak membantu mereka.

Setelah selesai melaporkan penelitiannya di Jakarta, pada kesempatan lain jales kembali ke desa dan disambut hangat oleh penduduk desa, jales juga di sambut dengan tarian daerah tersebut.

 

RESENSI

 Data Film

Sutradara         : Rudi Soedjarwo

Produser          : Marcella Zalianty

Penulis             : Slamet Rahardjo

Pemeran          : Marcella Zalianty, Arifin Putrs, Ardina Rasti, Jajang C Noer, Piet

Pagau, Marcell Domits, Alifyandra, Otig Pakis, Tetty Liz Indrianti

Distributor       : Keana Production

Tanggal rilis    : 19 Mei 2011

Negara             : Indonesia

 Penokohan

  1. Marcella Zalianty (Jaleswari) : Orang yang ditugaskan oleh lembaganya untuk menyelidiki kegiatan CSR (Corporate Social Responbility) namun akhirnya ia menjadi guru di Borneo. ia mandiri, cerdas, kreatif, bertanggung jawab, bekerja keras, peduli dan ramah.
  2. Arifin Putra (Arif) : Seorang polisi yang menyamar, ia akan membantu Jaleswari. Ramah, peduli, cerdas, kreatif, bekerja keras, baik hati dan suka menolong.
  3. Marcel Domits (Adeus) : Satu satunya guru asli di daerah Borneo. Baik, ramah, suka menolong, berani, bekerja keras.
  4. Alifyandra (Borneo) : Salah satu murid Jaleswari, Jaleswari juga menginap dirumah Borneo ketika melakukan misinya di Borneo. Baik, ramah, penyayang, kreatif, optimis.
  5. Piet Pagau (Panglima) : kepala suku di Borneo, ia juga merupakan kakek dari Borneo. Berwibawa, ramah, penyayang, tegas, peduli dan dapat menggurui Jaleswari.
  6. jajang C Noer (Nawara) : Nenek Borneo, ia yang tinggal bersama Jaleswari, Ubuh dan Borneo, ia istri dari Panglima, karena ada masalah keluarga mereka tidak tinggal dirumah yang sama. Baik, penyayang, ramah, suka menolong.
  7. Ardina Risti (Ubuh) : Wanita yang memiliki depresi berat yang tinggal dirumah Nawara. Awalnya keras, tidak mau bersahabat dengan Jales, namun akhirnya penyayang.
  8. Otig Pakis (Otig) : Juragan yang jahat. Jahat, keras, licik, pembohong.

Tema

Tema yang diangkat dari film ini yaitu tentang Pendidikan.

Alur

Jika dilihat dari jalan ceritanya, film ini menggunakan alur maju-mundur.

Kelebihan

Film ini mengajak para penonton untk lebih memperhatikan dan peduli terhadap orang-orang yang tinggal di pedalaman, khusunya di perbatasan seperti entikong ini, film ini juga menunjukkan bahawa di perkampungan itu memiliki alam yang indah dan kehidupan masyarakat dan budaya yang unik.

Kekurangan

Terlalu banyak konflik yang dieritakan dalam film ini, dan konflik-konflik itu tidak dapat disampaikan secara detail karena durasi film yang terbatas. Secara keseluruhan film ini sangat menarik untuk ditonton

 

Pesan Moral

             Banyak pesan moral yang diambil dari film ini. Salah satu poin pentingnya yang diangkat adalah pentingnya pendidikan. Lewat film ini saya dapat melihat minimnya sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan didaerah terpencil. Dan hal ini didukung pula oleh masyarakat sekitar yang tidak menyadari petingnya makna pendidikan. Mereka cenderung lebih suka bekerja membantu orang tua mereka diladang tanpa berfikir apa yang dapat memperbaiki hidup mereka untuk jangka panjang. Hal ini sangat menyentuh dan memprihatinkan bagi saya. Sudah sepatutnya kita bisa mendapatkan pendidikan dengan infrastruktur yang baik dan memadai belajar dengan sungguh sungguh.

Film ini juga mengajarkan hati dan keberanian untuk melakukan apa yang benar, meskipun banyak ancaman dan ketidaknyamanan yang kita alami. Dan satu hal lagi, film ini membuat saya menjadi lebih mengerti dan bisa membayangkan kondisi masyarakat diperbatasan yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Bagi saya film ini merupakan suatu karya anak bangsa yang membanggakan, mengajarkan kita untuk menunjukkan sikap peduli dan semangat nasionalisme tinggi.

 

Saran dan kritik

Jaleswari suatu ketika ditugaskan oleh pimpinan perusahannya untuk menyelidiki penyebab gagalnya kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan mereka di sebuah daerah terpencil di perbatasan Kalimantan.  Dengan durasi tayangan yang hampir mencapai dua jam, Batas mencoba menceritakan mengenai banyak hal. Sejak awal, film ini diceritakan dengan begitu kompleks, dengan berbagai kasus, mulai dari menceritakan sosok Jaleswari dengan semangat dan optimistisnya, kemudian juga ada cerita daerah perbatasan Kalimantan yaitu wilayah Entikong, yang begitu terisolir dengan kualitas pendidikan yang begitu memprihatinkan, kemudian juga pemikiran masyarakat di sana bahwasanya anak-anak lebih baik bekerja daripada belajar. Lalu ada Otik, seorang warga Borneo yang menginginkan warga-warga  di sana agar tetap bodoh dan apatis terhadap pendidikan, supaya memuluskan jalannya untuk bisa memperjualbelikan para wanita di wilayah itu ke negara tetangga.  Juga ada Adeus, satu-satunya guru di Desa itu yang merasa  tertekan dengan ancaman dari Otik yang melarangnya untuk mengajar anak-anak di desa tersebut. Ada masalah Kepala Adat Dayak dan mantan istrinya yang hubungannya sudah tidak rukun lagi sejak kematian anaknya, dan terakhir tentang misteri kejadian yang dialami Ubuh, wanita misterius yang ditemukan warga setempat di Hutan dengan luka traumatiknya yang luar biasa. Film ini menceritakan banyak sisi dan begitu kompleks. Dan untuk menceritakan rangkaian konflik tersebut dengan lancar tentunya bukanlah hal yang mudah. Beberapa kali “Batas” terlihat seperti kehilangan fokus dalam penceritaannya. Dari satu cerita beralih ke cerita yang lain, dan perlahan-lahan setiap misteri dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak penonton yang melihat film ini mulai terbuka dan terjawab. Walaupun saya merasa ada sedikit kebingungan dalam memaknai beberapa adegan dikarenakan ceritanya yang memuat beberapa sudut pandang, sehingga ada beberapa plot yang seakan tidak terselesaikan dengan baik. Walaupun begitu, sutradara film ini, Rudi Soedjarwo, mampu menghadirkan susunan cerita yang kuat dan menarik dengan menampilkan balutan gambar-gambar dengan panorama alam Entikong yang indah, adegan para tokoh yang begitu menjiwai setiap peran yang dimainkannya, mampu membuat penonton terhibur dan hanyut ke dalam alur cerita tersebut. Keunggulan dari film ini adalah walaupun cerita ini bukan berdasarkan kisah nyata, namun konflik yang dimunculkan dalam film ini merupakan fenomena atau realita yang kerap terjadi di wilayah perbatasan Kalimantan. Tentang nilai dan adat istiadatnya, sistem pendidikannnya, daerah yang terisolir dan jauh dari peradaban dan sentuhan kemajuan, serta tentang ideologi bangsa yang sering terkalahkan dengan realita bahwa masyarakat di wilayah perbatasan tersebut ingin hidup lebih baik dengan merantau ke negara tetangga yang lebih mampu menawarkan apa yang tidak mampu ditawarkan negaranya sendiri.

 

Releated Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *